Selasa, 04 Januari 2011

PENERAPAN PEMBELAJARAN AKTIF KREATIF EFEKTIF

BAB. I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Untuk mencapai tujuan Pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas, salah satu upaya untuk meningkatkan manusia yang berkualitas adalah melalui pendidikan. Melalui pendidikan ilmu pengetahuan dapat diperoleh, salah satu pilar utama pendidikan adalah melalui sekolah. Melalui sekolah proses pembelajaran akan diperoleh, berhasil tidaknya proses pembelajaran tergantung dari komponen yang terkait didalamnya, yakni guru dan siswa itu sendiri.
Proses pembelajaran dikatakan berhasil bila mencapai tujuan yang oftimal. Kualitas proses pembelajaran sangat berkaitan dengan hasil belajar yang ingin dicapai, hasil belajar yang memuaskan tentunya bersumber dari proses pembelajaran yang memaksimalkan seluruh faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran . Hasil belajar setiap siswa akan berbeda, sesuai dengan proses pembelajaran yang dialaminya, karena siswa memiliki latar belakang dan karakteristik yang berbeda pula.
Proses pembelajaran dapat membuat siswa aktif apabila siswa termotivasi dalam belajar. Banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk membuat siswa aktif, antara lain dengan model pembelajaran aktif, kreatf, efektif dan menyenangkan ( PAKEM ). Untuk dapat melaksanakan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan dalam kelas di perlukan guru yang kreatif dan inovatif. Guru bukan sekedar melaksanakan tugasnya sebagai rutinitas yang melakukan tugas mengajar secara monoton dari waktu ke waktu. PAKEM memerlukan guru yang selalu mencoba melakukan pembaharuan, mencoba sesuatu yang baru. Perubahan paradigma pengajaran dan pembelajaran amat bergantung pada perubahan pemahaman guru tentang dasar dan teori kependidikan yang dianutnya, termasuk dengan perubahan cara pandang ( point of vew) dan pola pikir (minsed) tentang peran dan kompetensi propesional pendidik dalam proses pembelajaran di sekolah.
Menurut Prof. Dr. Dasim Budimansyah dkk (2008 : 7), Model pembelajaran Aktif dapat menciptakan ketertarikan bagi siswa (creating excitement in classroom), memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir dan bekerja (getting students to think and work). Pembelajaran Aktif digunakan dalam proses pembelajaran untuk membuat siswa lebih banyak melakukan sesuatu daripada hanya sekedar mendengar . Siswa harus membaca, menulis, mendiskusikan, atau terlibat secara aktif dalam pemecahan masalah, (Chikering and Gamson, 1987). Menurut Prof. Dr. Dasim Budimansyah, Belajar akan efektif jika dilakukan dalam suasana yang menyenangkan.
Agar guru mau dan mampu menggunakan PAKEM dalam pembelajaran disekolah, Menurut Prof. Dr. Dasim Budimansyah dkk ( 2008 : 10), langkah-langkah berikut dapat menjadi perhatian : Diperlukan konpetensi dan sekaligus komitmen pada guru untuk menerapkan PAKEM dalam proses pembelajaran, diperlukan bahan bacaan atau referensi yang cukup bagi guru dipusat sumber belajar (PSB) atau learning Resources Center (LRC), laboratorium, dan perpustakaan sekolah, PAKEM perlu dilatih kan dilembaga pelatihan dalam jabatan (Inservice training) seperti Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG), pengawas dan kepala sekolah perlu melakukan supervisi kelas untuk dapat mengetahui secara pasti tentang penerapan PAKEM dalam proses pembelajaran didalam maupun diluar kelas.
Metode mengajar satu-satunya andalan yang dilakukan oleh guru adalah ceramah atau dikenal dengan Chalk and talk. Dengan strategi dan metode ceramah peran guru lebih kepada menyampaikan informasi. Proses pembelajaran masih berpusat kepada guru (teacher-centered), belum berpusat pada siswa (students- centered). Lebih dari itu banyak pendidik yang masih menganggap bahwa murid-murid sebagai botol kosong yang harus diisi ilmu pengetahuan dari gurunya. PAKEM adalah pendekatan baru dalam proses belajar mengajar, khususnya di Sekolah Dasar di Indonesia. Untuk dapat menerapkan dalam proses pembelajaran, guru harus mampu menguasai konsep PAKEM tersebut.
Pada kurikulum 2004 (KBK) dan 2006 (KTSP) dinyatakan pembelajaran matematika bertujuan mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan-perubahan keadaan didalam kehidupan dan dunia yang selalu berkembang melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran yang logis rasional, kritis, cermat dan jujur, efisien dan efektif (BNSP 2006). Disamping itu, siswa diharapkan menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan yang penekanannya pada pemahaman konsep dan pembentukan sikap dan keterampilan dalam penerapan matematika.
Matematika merupakan suatu mata pelajaran yang diajarkan pada setiap jenjang pendidikan di Indonesia mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai ke tingkat Sekolah Menengah Atas. Mata pelajaran matematika selain mempunyai sipat yang abstrak, pemahaman konsep yang baik sangatlah penting karena untuk memahami konsep yang baru diperlukan prasyarat pemahaman konsep sebelumnya (Masnur, 2007). Ia menambahkan, matematika merupakan mata pelajaran yasng bersipat abstrak sehingga dituntut kemampuan guru untuk dapat mengupayakan metode yang tepat sesuai dengan tingkat perkembangan mental siswa. Proses kreatif pada matematika tidak mempunyai target untuk menemukan rumus matematika. Menurut Iwan zahar, dalam belajar matematikaku (2009 : 19), Apabila anak mampu memvisualkan soal cerita matematika dengan caranya sendiri sudah termasuk kegiatan membuat kreativitas dengan matematika.
Menurut Catur Supatmono, (2009 : 1) mengatakan, faktor penyebab rendah nya minat siswa terhadap pelajaran matematika adalah: 1).Faktor budaya, dalam masyarakat kita ada budaya bahwa orang kurang senang dengan budaya kerja keras, makin banyak teknologi yang dapat menggantikan peran kerja manusia makin membuat orang tidak mau bekerja keras dan cenderung menyerahkan banyak hal kepada mesin atau alat bantu lain. 2). Faktor system pendidikan, system pendidikan kita cenderung menentukan segala sesuatunya dari atasan, paradigm ini kemudian berpengaruh dalam proses belajar mengajar dikelas. Guru adalah sumber informasi utama dan siswa adalah bejana kosong yang akan diisi dengan berbagai macam pengetahuan . 3).Faktor system penilaian, system penilaian di sekolah cenderung hanya menilai hasil akhir pekerjaan siswa dan bukan menilai proses pekerjaan siswa. Akibatnya siswa yang sudah berusaha keras pun jika hasilnya salah, maka akan memperoleh nilai yang jelek. 4).Faktor orang tua dan keluarga, banyak orang tua kurang dapat memahami beratnya beban siswa dalam belajar disekolah, sehingga banyak orang tua yang tidak suportif terhadap anak-anaknya. 5).Faktor sifat bidang studi, matematika memiliki karakteristik yang sangat khas, berbeda dengan disiplin ilmu yang lain. 6). Faktor guru, dibandingkan dengan guru bidang studi lain, guru matematika cenderung mudah terkena godaan untuk gampang marah terhadap siswa. Disebabkan pada satu sisi tuntutan dari kurikulum, target kelulusan dari ujian nasional dan lain-lain.
Pembelajaran dikelas biasa dilakukan dengan pendekatan mekanistik. Siswa menerima penjelasan langkah-langkah dalam menyelesaikan soal, tetapi mereka tidak tahu darimana langskah-langkah tersebut sehingga siswa sering mengalami salah pemahaman dalam materi pelajaran. Sebagai contoh, siswa dalam sipat-sipat dan ciri-ciri bangun datar siswa tidak memahami konsepnya tetapi hanya menghapal dengan membaca pada buku paket tentang bangun dasar tersebut.
Pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan pada matematika sangat berbeda dengan pembelajaran matematika selama ini yang cenderung berorientasi kepada pemberian informasi. Karena PAKEM menerapkan metode kontektual dan pengalaman lansung siswa dalam memecahkan masalah.
Berdasarkan pengalaman peneliti sebagai guru kelas yang mengajarkan matematika, di Sekolah Dasar Negeri 009 Seberang Taluk, nilai matematika masih dibawah rata-rata KKM yang telah ditetapkan yakni 6,5 dibandingkan pelajaran lainnya. Hal ini disebabkan berbagai masalah, kreativitas siswa sangat rendah. Hal ini dapat dilihat selama proses pembelajaran berlansung. Siswa tidak kreatif dalam memecahkan masalah matematika, siswa kurang berani dalam mengemukakan pendapat dalam diskusi kelompok, serta siswa kurang aktif dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru dan siswa kurang berani mengajukan pertanyaan kepada guru. Dengan demikian pembelajaran hanya berpusat kepada guru, siswa hanya menunggu apa yang diberikan oleh guru melalui metode ceramah.
Untuk itu perlu adanya perubahan pembelajaran yang memberi peluang pada siswa untuk lebih aktif, kreatif dalam kegiatan pembelajaran yang menyenangkan. Cara tersebut ditempuh dengan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Sehungga dapat membangun pengetahuannya sendiri.
Rendahnya hasil belajar matematika disebabkan oleh pemahaman dan penguasaan siswa terhadap matematika. Bahkan matematika merupakan pelajaran yang sangat menakutkan dan membosankan bagi siswa. Semua ini sangat besar pengaruhnya terhadap hasil pelajaran. Hasil belajar merupakan salah satu indikator menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Berhasil atau tidaknya proses pembelajaran yang dirancang oleh guru dapat dilihat dari hasil pembelajaran yang diperoleh siswa.
Pemilihan metode yang tepat merupakan hal yang penting dipertimbangkan guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Seorang guru harus mencari dan menemukan metode yang lebih efektif dan bervariasi agar siswa tertarik untuk belajar. Dengan diterapkannya model pembelajaran PAKEM pada setiap mata pelajaran yang ada di Sekolah Dasar diharapkan akan memotivasi siswa untuk belajar, dan dapat menajadikan siswa menjadi lebih aktif dalam berintegrasi dikelas, situasi kelas lebih menyenangkan sehingga tercipta pembelajaran yang lebih bermakna, sehingga tujuan dari pembelajaran dapat dicapai dengan baik.
Pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Kuantan Singingi bekerjasama dengan UNICEF, Di Sekolah Dasar Negeri 009 Seberang Taluk Kecamatan Kuantan Tengah belum memberikan hasil yang memadai. KKM yang diharapkan masih dibawah standar rata-rata yang telah ditetapkan oleh sekolah yakni 6,5. Berdasarkan hasil ujian semester genap Tahun Pelajaran 2009 / 2010 skor rata-rata siswa pada mata pelajaran matematika yang mencapai KKM hanya 35%.
Untuk mengatasi masalah tersebut diatas, peneliti sebagai guru matematika pada kelas V SDN 009 Seberang Taluk Kecamatan Karuantan Tengah mencoba melakukan perbaikan dengan cara menyampaikan materi pelajaran dengan metode PAKEM yaitu membawa siswa kepada pengalaman lansung terhadap apa yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari dan pemahaman konsep. Pada materi bangun datar, siswa kurang memahami konsep dari bangunan tersebut. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat proses pembelajaran berlansung, yang dilaksanakan secara berkelompok dan individual. Berbagai metode telah lakukan penulis, tetapi belum membuahkan hasil.
Pembelajaran matematika di SD hendaknya ditekankan pada proses penemuan konsep dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengalami, mencari, bekerjasama dengan kelompok, menemukan sehingga mereka dapat membangun pengetahuannya sendiri. Sementara itu yang terjadi di SD aktivitas pembelajaran masih berpusat pada guru, siswa cenderung pasif. Untuk itu perlu adanya perubahan pembelajaran yang menyenangkan. Cara tersebut ditempuh dengan menerapkan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Berdasarkan fenomena-fenomena yang telah diuraikan diatas, pembelajaran aktif kreatif efektif dan menyenangkan diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar matematika dikelas V Sekolah Dasar Negeri 009 Seberang Taluk Kecamatan Kuantan Tengah yakni tentang materi bangun datar.

B. Identifikasi masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dapat di identifikasi masalah nya sebagai berikut:
1. Adanya anggapan bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit, karena banyak dihadapkan oleh perhitungan dan pemecahan masalah.
2. Kurangnya kemampuan siswa dalam pemahaman konsep dalam pembelajaran matematika
3. Kurangnya aktivitas siswa dalam pembelajaran seperti aktivitas bertanya, kurang mampu memberikan saran atau kritikan kepada teman dalam diskusi, dan kurang aktif dalam diskusi.
4. Siswa kurang berani untuk mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan yang diberikan guru
5. Rendahnya hasil belajar matematika pada kelas V Sekolah Dasar Negeri 009 Seberang Taluk Kecamatan Kuantan Tengah.
6. Belum adanya inovasi dan variasi guru dalam menerapkan metode pembelajaran, serta guru kurang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran, pelajaran masih berpusat pada guru (Teacher centered)
7. Guru kurang memberikan motivasi kepada siswa untuk aktif dalam diskusi, kreatif dalam memecahkan masalah

C. Batasan masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, batasan masalah pada penelitian ini adalah :
1. Kurangnya aktivitas siswa dalam pembelajaran, seperti aktivitas bertanya, kurang mampu memberi saran dan kritikan kepada teman dalam diskusi, kurang aktif dalam diskusi.
2. Rendahnya hasil belajar matematika pada kelas V Sekolah Dasar Negeri 009 Seberang Taluk Kecamatan Kuantan Tengah.




D. Rumusan Masalah
Sebagaimana yang telah diuraikan pada identifikasi masalah, maka dapat di rumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apakah pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada pembelajaran matematika kelas V SDN 009 Seberang Taluk Kecamatan Kuantan Tengah?
2. Apakah pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM) dapat meningkatkan hasil belajar matematika kelas V pada Sekolah Dasar Negeri 009 Seberang Taluk Kecamatan Kuantan Tengah?

E. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk mengungkapkan bahwa :
1. Pembelajaran aktif kreatif efektif dan menyenangkan dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada pembelajaran matematika kelas V SDN 009 Seberang Taluk Kecamatan Kuantan Tengah
2. .Pembelajaran aktif kreatif efektif dan menyenangkan dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada kelas V SDN 009 Seberang Taluk Kecamatan Kuantan Tengah




F. Manfaat hasil penelitian
Mampaat yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi Guru Matematika SDN 009 Seberang Taluk Kecamatan Kuantan Tengah khususnya Guru kelas V, merupakan salah satu upaya untuk memperbaiki proses pembelajaran matematika, untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
2. Bagi peneliti menambah pengetahuan dan pengalaman sebagai Guru tentang PAKEM, serta sebagai rujukan untuk penelitian lanjutan.
3. Bagi sekolah sebagai bahan masukan untuk meningkatkan kualitas hasil belajar disekolah.
4. Bagi guru SD lainnya sebagai bahan informasi untuk merencanakan PAKEM.












BAB.II
KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Pengertian PAKEM
PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran, guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif berpikir, bertanya, mengemukakan gagasan, bereksperimen, mempraktekkan konsep yang dipelajari, dan berkreasi ( Depdiknas, 2009 : 17). PAKEM lahir dari berbagai pendekatan yang berkembang selama ini seperti SAL (Student active Learning) yang di Indonesia dikenal dengan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), dengan latar belakang teori pengajaran dan teori belajar (Teaching and learning Theory) yang mendukungnya. Pembelajaran aktif (active Learning) merupakan salah satu model pembelajaran yang melahirkan PAKEM.
Prof.Dr.Dasim Budimansyah, dkk (2009:7) mengatakan, Model pembelajaran Aktif dinilai memang dapat : 1). Menciptakan ketertarikan bagi siswa (creating excitement in the classroom). 2). Memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat berpikir dan bekerja (Geetting students to think and work).
Bagaimanapun juga pembelajaran aktif disarankan untuk digunakan dalam proses pembelajaran untuk membuat siswa lebih banyak melakukan sesuatu daripada hanya sekedar mendengarkan (Student must do more than just listen). Siswa harus membaca, menulis, mendiskusikan, atau terlibat secara aktif dalam pemecahan masalah (they must read, write, discuss, or be engaged in solving problems). Lebih dari itu, siswa dilibatkan secara aktif dalam proses berpikir tingkat tinggi (higher order thinking) seperti untuk kegiatan analisis, sintesis, dan penilaian (Chikering and Gamson, 1987).
Menurut Prof. Dr. Dasim Budimansyah dkk, (2009 : 70), mengatakan bahwa: PAKEM adalah Pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Aktif dimaksudkan Bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga peserta didik aktif mengajukan pertanyaan, mengemukakan gagasan, dan mencari data dan informasi yang mereka perlukan untuk memecahkan suatu masalah.
Menurut Mel silberman,(2009 : 30), Ada tiga tujuan penting yang harus dicapai pada awal pembelajaran aktif yaitu : 1). Membangun tim (team building), bantulah peserta didik menjadi kenal satu sama lain dan ciptakan semangat kerja sama dan saling bergantung. 2). Penegasan, pelajarilah sikap, pengetahuan, dan pengalaman peserta didik. 3). Keterlibatan belajar seketika, bangkitkan minat awal pada mata pelajaran.
Kreatif dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Siswa dikatakan kreatif apabila mampu melakukan sesuatu yang menghasilkan sebuah kegiatan baru yang diperoleh dari hasil berpikir kreatif dengan mewujudkannya dalam bentuk hasil karya baru.
Efektif (Effective Instruction) merupakan pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman baru, membentuk kompetensi peserta didik, dan mengantarkan mereka ke tujuan yang ingin dicapai secara optimal. Hal ini dapat dicapai dengan melibatkan siswa dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran.
Menyenangkan adalah suasana belajar mengajar yang nyaman, sehingga siswa memusatkan perhatian secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi.
Secara garis besar gambaran PAKEM adalah sebagai berikut: 1). Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. 2). Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa. 3). Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan pojok baca. 4). Guru menerapkan cara mengajar lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok. 5).Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.
Depdiknas (2009 : 20) menyatakan, yang harus diperhatikan dalam melaksanakan PAKEM adalah : 1). Memahami sipat dasar anak, pada dasarnya anak memiliki rasa ingin tahu dan suka berimajinasi. Setiap anak yang dilahirkan normal mempunyai dua sipat yang merupakan modal dasar bagi berkembangnya sipat kritis dan kreatif. 2). Mengenal perbedaan setiap anak, siswa memiliki lingkungan yang berbeda dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam PAKEM perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. 3). Memahami anak sebagai makhluk sosial, sejak kecil anak secara alami cenderung melibatkan anak lain dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja secara berpasangan atau dalam kelompok. 4). Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan suatu masalah, keterampilan memecahkan suatu masalah memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah dan kreatif untuk melahirkan alternative pemecahan masalah. 5). Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menyenangkan, dalam kelas yang menerapkan PAKEM, anak-anak banyak belajar melalui bekerja dan berbuat sehingga banyak menghasilkan produk. Hasil kerja siswa tersebut dipajangkan untuk memjadikan kelas lebih hidup dan menarik. 6). Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, lingkungan fisik, sosial, dan budaya merupakan sumber belajar yang sangat kaya untuk belajar anak. Lingkungan sangat berperan sebagai media belajar, juga sebagai objek kajian sumber belajar. Penggunaan lingkungan sebagai media untuk belajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar. 7). Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar, mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. 8). Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental, siswa yang kelihatan sibuk bekerja dan bergerak, apalagi jika duduk saling berhadapan keadaan tersebut bukanlah merupakan ciri dari PAKEM. Aktif mental lebih di inginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Dengan pembelajaran aktif kreatif efektif dan menyenangkan akan akan menumbuhkan kreativitas siswa dalam belajar matematika.
Karakteristik PAKEM Secara fisikal, beberapa ciri menonjol yang tampak secara kasat mata dalam proses pembelajaran dengan menggunakan PAKEM. Pertama, adanya sumber belajar yang beraneka ragam, tidak mengandalkan buku sebagai satu-satunya sumber belajar. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memperkaya pengalaman belajar peserta didik. Kedua, sumber belajar yang beraneka ragam tersebut kemudian didesain scenario pembelajarannya dengan berbagai kegiatan Ketiga, hasil kegiatan belajar mengajar kemudian dipajang ditembok kelas, papan tulis, dan bahkan ditambah dengan tali rapiah disana-sini. Pajangan tersebut merupakan hasil diskusi atau hasil karya siswa. Keempat, Kegiatan belajar mengajar bervariasi secara aktif, yang biasa didominasi oleh kegiatan individual dalam beberapa menit, kegiatan berpasangan, dan kegiatan kelompok kecil antara empat sampai lima orang, untuk mengerjakan tugas-tugas yang telah disepakati bersama, dan salah seorang diantaranya menyampaikan (presentase) hasil kegiatan mereka didepan kelas. Hasil kegiatan siswa kemudian dipajang. Kelima, dalam melaksanakan pelbagai tugas tersebut, para siswa, baik secara individual maupun secara kelompok, mencoba mengembangkan semaksimal mungkin kreativitasnya Keenam, dalam melaksanakan kegiatannya yang beraneka ragam itu, tampaklah antusiasme dan rasa senang siswa. Ketujuh, pada akhir proses pembelajaran, semua siswa melakkukan kegiatan dengan apa yang disebut sebagai refleksi, yakni menyampaikan kesan dan harapan mereka terhadap proses pembelajaran yang baru saja diikutinya.
Gambaran PAKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama pembelajaran. Pada saat yang sama gambaran tersebut menunjukkan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut. Berikut table.1. beberapa contoh kegiatan pembelajaran dan kemampuan guru:
Kemampuan guru Pembelajaran
1. Guru merancang dan mengelola pembelajaran yang mendorong siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran Guru melaksanakan pembelajaran dalam kegiatan yang beragam, misalnya: Percobaan, diskusi kelompok, memecahkan masalah, mencari informasi, menulis laporan, berkunjung keluar kelas.
2. Guru dapat menggunakan alat bantu dan sumber belajar beragam Sesuai mata pelajaran, guru menggunakan, misal: Alat yang tersedia atau yang dibuat sendiri, gambar, studi kasus, nara sumber, lingkungan
3. memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan Siswa: Melakukan percobaan, pengamatan, atau wawancara, mengumpulkan data/jawaban dan mengolahnya sendiri, menarik kesimpulan, memecahkan masalah, mencari rumus sendiri, menulis laporan/hasil karya lain dengan kata-kata sendiri
4. Guru member kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasanrnya sendiri secara lisan atau tulisan Melalui: Diskusi, lebih banyak pertanyaan terbuka, asil karya yang merupakan pemikiran anak sendiri.
5. Guru menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan Siswa dikelompokkan sesuai dengan kemampuan (untuk kegiatan tertentu), bahan pelajaran disesuaikan dengan kemampuan kelompok tersebut, tugas perbaikan atau pengayaan diberikan
6. Guru mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman siswa Siswa menceritakan atau manfaatkan pengalaman nya sendiri, Siswa menerapkan hal yang dipelajari dalam kegiatan sehari-hari
7. Menilai pembelajaran dan kemajuan belajar siswa secara terus menerus Guru memantau kerja siswa
Guru memberikan umpan balik
Tabel. 1. Kegiatan pembelajaran dan kemampuan guru dalam PAKEM

2. Pengertian aktivitas belajar
Aktivitas adalah segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara jasmani maupun rohani. Aktivitas siswa selama proses pembelajaran merupakan salah satu indicator adanya keinginan siswa untuk belajar. Aktivitas siswa merupakan kegiatan atau perilaku yang terjadi selama proses pembelajaran. Kegiatan-kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang mengarah pada proses pembelajaran seperti bertanya, mengajukan pendapat, mengerjakan tugas-tugas, dapat menjawab pertanyaan guru dan bisa bekerjasama dengan siswa lain, serta tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.
Sedangkan Oemar Hamalik (2008 : 172) mengemukakan jenis-jenis aktivitas sebagai berikut: 1).Kegiatan-kegiatan visual seperti membaca, melihat gambar-gambar, mengenai eksperimen, demontrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja atau bermain. 2.) Kegiatan-kegiatan lisan seperti mengemukakan suatu fakta atau prinsif, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, member saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi, dan interupsi. 3). Kegiatan-kegiatan mendengarkan penyajian bahan seperti mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan, mendengarkan radio. 4). Kegiatan-kegiatan menulis seperti menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat rangkuman, mengerjakan tes dan mengisi angket. 5). Kegiatan-kegiatan menggambar seperti menggambar membuat grafik, chart, diagram, peta dan pola. 6). Kegiatan-kegiatan metrik seperti melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari dan berkebun. 7). Kegiatan-kegiatan mental seperti merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis, Faktor-faktor, melihat hubungan-hubungan dan membuat keputusan. 8). Kegiatan-kegiatan emosional seperti minat, membedakan, berani, dan tenang.
Sedangkan Wina Sanjaya (2008) berpendapat, pengalaman belajar harus dapat mendorong siswa agar beraktivitas melakukan sesuatu, mereka harus mengemukakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar bukanlah menghafal sejumlah fakta atau informasi. Belajar adalah berbuat, memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Karena itu strategi pembelajaran harus dapat mendorong aktivitas siswa baik aktivitas fisik maupun fsikis.
Mengerjakan matematika mengandung makna aktivitas, guru mengatur kelas sebaik-baiknya dan menciptakan kondisi yang kondusif sehingga siswa dapat belajar matematika. Aktifnya siswa selama proses pembelajaran merupakan salah satu indicator adanya keinginan ataupun motivasi siswa untuk belajar. Siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemukan ciri-ciri perilaku seperti : sering bertanya kepada guru atau siswa lain, mau mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, mampu menjawab pertanyaan, senang diberi tugas belajar dan lain-lain. Semua ciri perilaku tersebut pada dasarnya dapat ditinjau dari dua segi yaitu segi proses dan segi hasil.
Trinandita (1984) mengatakan bahwa, hal yang paling mendasar yang dituntut dalam proses pembelajaran adalah keaktifan siswa. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun dengan siswa itu sendiri. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing-masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan hasil belajar.
Pembelajaran memang harus memerluka aktivitas siswa agar hasil belajar dapat tercapai. Aktivitas siswa membuat pembelajaran lebih bermakna dan mudah dipahami. Sesuai dengan prinsif-prinsif belajar menurut Slamento (2003) sebagai prasyarat yang diperlukan untuk belajar adalah : dalam setiap pembelajaran, siswa diusahakan berpartisifasi aktif, meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan pembelajaran. Belajar harus menimbulkan reinforcement dan motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Belajar perlu lingkungan yang menantang, dimana siswa dapat mengembangkan kemampuannya bereksplorasi dan belajar dengan efektif.
Dari beberapa pendapat ahli dan penjelasan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa aktivitas sangat diperlukan dalam pembelajaran, agar pembelajaran tercipta sesuai dengan yang diinginkan, sehingga tercipta pembelajaran yang interaktif, inspiratif, dan menyenangkan. Sesuai dengan tujuan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Sehingga pembelajaran matematika tak lagi menakutkan bagi siswa, dan tujuan pembelajaran dan hasil pembelajaran dapat tercapai. Sesuai dangan beberapa konsep matematika berikut ini.

3. Konsep Matematika
Secara etimologi, matematika berasal dari bahasa latin Manthanein atau mathemata yang berarti belajar atau hal yang harus dipelajari. Dalam bahasa belanda disebut Wiskunde atau ilmu pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran.
Menurut Catur Supatmono (2009: 5), matematika adalah ilmu yang tidak jauh dari realitas kehidupan manusia. Pada zaman purba berabad-abad sebelum masehi manusia telah mempunyai kesadaran akan bentuk benda disekitarnya yang berbeda satu dengan yang lain. Batu berbeda dengan kayu, gunung berbeda dengan laut, pohon yang satu berbeda dengan pohon yang lain, kesadaran macam inilah yang menjadi bibit lahirnya geometri yang merupakan bagian dari matematika.
Riedesel, dkk (1996 : 10 – 11) merangkum beberapa pandangan siswa, orang tua, dan guru tentang apa yang dimaksud dengan matematika atau pelajaran matematika.
1. Menurut siswa a). Setiap soal matematika mempunyai tepat sebuah jawaban yang benar, b). Matematika adalah kumpulan kebenaran dan aturan. Tugas siswa adalah mengikuti aturan itu untuk menemukan jawaban yang benar. Biasanya aturan yang harus dipakai adalah yang diajarkan guru. c). Siswa tidak perlu mengerti mengapa suatu aturan berlaku berlaku tetapi cukup menghapal saja. d). Jika dalam tempo lima menit suatu soal tidak dapat dipecahkan, berarti kita tidak mungkin memecahkannya lebih baik berhenti saja. e). Hanya para jenius sajalah yang dapat menemukan atau menciptakan matematika. Siswa tidak dapat memikirkan matematika menurut pikirannya sendiri. f). Soal matematika hamper tidak ada hubungannya dengan dunia nyata, kita mengerjakan apa yang bermakna, sedangkan dalam matematika kita tinggal menuruti aturan- aturan.
2. Menurut orang tua, a). Matematika berisi bilangan-bilangan dan hitungan-hitungan, ketepatan yang pasti, serta aturan-aturan yang tidak mungkin keliru. b). Anak perlu mengetahui kebenaran-kebenaran dan aturan-aturan matematika. c). Belajar matematika merupakan kemampuan bawaan, jika anak tidak berbakat, maka ia tidak mungkin berhasil dalam pelajaran matematika. d). Matematika merupakan pelajaran yang sulit, sehingga anak tidak bias terlalu diharapkan untuk berhasil mempelajarinya. e). Disekolah Dasar, pelajaran membaca lebih penting daripada matematika, kurang mahir matematika tidak perlu dirisaukan.
3. Menurut guru, a). Matematika bersipat instrumental, yaitu berupa kumpulan-kumpulan aturan, tanpa perlu mengatahui alasan-alasannya. b). Matematika adalah pelajaran yang isinya sudah tertentu dan bersipat statis. c). Memahami matematika berarti menghapal rumus-rumus dan aturan-aturan, serta memakainya untuk mencari jawaban soal-soal.
Bertitik tolak dari rangkuman tersebut diatas, Riedesel dkk (1996 : 13-15), menyajikan pandangan baru yang benar mengenai apa yang dimaksud dengan pembelajaran matematika yaitu : 1). Matematika bukan sekedar berhitung. 2). Matematika merupakan kegiatan menemukan dan mempelajari pola serta hubungan. 3). Matematika merupakan kegiatan pembangkitan masalah dan pemecahan masalah, 4). Matematika adalah sebuah bahasa. 5).s Matematika merupakan cara berpikir dan alat berpikir. 6). Matematika merupakan bangunan pengetahuan yang terus berubah dan berkembang. 7). Matematika bermanfaat bagi semsua orang. 8). Pelajaran matematika bukan sekedar untuk mengetahui matematika, tetapi untuk melakukan matematika. 8). Pelajaran matematika merupakan jalan untuk menuju berpikir merdeka.
Seperti ilmu pengetahuan lain matematika mempunyai ciri-ciri yang membedakan dengan ilmu yang lain. Menurut yansen marpaung (1998 : 245-246), ciri-ciri penting matematika adalah sebagai berikut: 1). Matematika secara historis berkembang bukan secara deduktif, tetapi empiris induktif. Dalam perkembangannya menggunakan metode dedukasi untuk mempelajari matematika. Dengan menggunakan metode ini pula mulai gencar mempertanyakan kembali kebenaran teor-teori yang sudah ada dengan menggugat aksioma-aksioma sebelumnya sehingga matematika maju dan berkembang dengan pesat. 2). Aksioma-aksioma dalam matematika bersipat konsisten, dengan demikian, teori-teori yang diturunkan dari aksioma-aksioma sebelumnya tidak mengalami pertentangan dengan yang lain.
Pelajaran matematika adalah salah satu pelajaran yang dipelajari siswa mulai dari jenjang SD sampai dengan Perguruan Tinggi. Matematika memegang peranan penting karena belajar matematika secara benar, daya nalar siswa dapat terolah. Meski tidak semua banyak siswa yang mengeluh pelajaran matematika. Siswa menganggap pelajaran matematika sebagai pelajaran yang menakutkan, tidak menarik, membosankan, dan sulit. Tentu saja memprihatinkan karena jenjang SD merupakan tingkat dasar dari seluruh proses pendidikan yang akan dijalani.
Suherman (1993:220), Mengemukakan pendekatan dalam matematika adalah suatu jalan cara atau kebijaksanaan yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam pencapaian tujuan pembelajaran dilihat dari sudut bagaimana proses pembelajaran atau materi pembelajaran itu, umum atau khusus.
Suherman (1993:221), Mengatakan pula bahwa pendekatan pembelajaran merupakan suatu konsep atau prosedur yang digunakan dalam membahas suatu bahan pelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran .
Sementara itu, Soedjadi (1991:102), membedakan penedekatan pembelajaran matematika menjadi dua, sebagai berikut: 1). Pendekatan materi (material approach), yaitu proses penjelasan topic matematika tertentu menggunakan materi matematika lain. 2). Pendekatan pembelajaran (Teaching approach), yaitu proses penyampaian atau penyajian topic tertentu.
Sedangkan Konsep pembelajaran matematika menurut konstruktivisme didasarkan kepada kerja akademik para ahli psikologi dan peneliti yang peduli dengan konstruktivisme, para ahli konstruktivisme mengatakan bahwa ketika siswa mencoba menyelasaikan tugas dikelas , maka pengetahuan matematika dikonstruksikan secara aktif (Wood,1990).
Para ahli konstruktivisme yang lain mengatakan bahwa dari perspektifnya konstruktivis, belajar matematika bukanlah suatu proses pengetahuan secara hati-hati, melainkan tentang mengorganisir aktivitas. Belajar matematika merupakan proses dimana siswa secara aktif mengkontruksi pengetahuan matematika. Para ahli setuju bahwa belajar matematika melibatkan manipulasi belajar aktif dari pemaknaan bukan hanya bilangan dan rumus-rumus saja. Setiap tahap dari pembelajaran melibatkan suatu proses penelitian terhadap makna dari penyampaian keterampilan hafalan dengan cara yang tidak ada jaminan bahwa siswa akan menggunakan keterampila intelagensinya dalam matematika.
Confrey (1990) Yang juga banyak bicara dalam konstruktivisme menawarkan suatu powerful construksion dalam matematika, dalam mengkonstruksikan pengertian matematika melalui pengalaman . Ia mengidentifikasi 10 karakteristik dari powerful construksion berfikir siswa. Lebih jauh ia mengatakan bahwa “powerful construction” ditandai oleh: Sebuah struktur dengan ukuran kekonsistenan internal, Suatu keterpaduan antar bermacam-macam konsep, Suatu kekovergenan diantara aneka bentuk dan konteks, Kemampuan untuk merefeksi dan menjelaskan, Sebuah kesinambungan sejarah, Terikat kepada bermacam-macam system symbol, Suatu yang cocok dengan pendapat experts, Suatu yang potensial untuk bertindak sebagai alat konstruksi lebih lanjut.
Teori konstruktivisme didefenisikan sebagai pembelajaran yang bersipat generative, yaitu tindakan menciptakan suatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivis sebenarnya bukan merupakan gagasan baru , apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman.
Konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti: 1). Pelajar aktif membina pengetahuan berazaskan pengalaman yang sudah ada. 2). Dalam konsteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka. 4). Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling mempengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru. 5). Unsur terpenting dalam teori ini ialah seorang membina pengetahuan diri secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahaman yang sudah ada. 6). Ketidak seimbangan merupakan factor motivasi pembelajaran yang utama. Factor berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah. 6). Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaiatan dengan pengalaman belajar untuk menarik minat pelajar.
Dari beberapa paham konstruktivisme dapat diambil sebagai acuan pada penerapan PAKEM pada pembelajaran matematika, karena pendekatan konstruktivisme mengacu kepada penerapan Pakem. Yang memegang konsep siswa aktif, membina pengetahuan dengan pengalaman lansung. Selain pendapat konstruktivisme, pendekatan open ended juga dapat dipegang sebagai dasar acuan untuk menerapkan Pakem terhadap matematika.
Menurut Suherman dkk (2003), Problem yang diformulasikan memiliki multi jawaban yang benar disebut problem tak lengkap atau disebut juga open ended problem atau soal terbuka. Siswa yang dihadapkan dengan open ended problem. Tujuan utamanya bukan untuk mendapatkan jawaban tetapi lebih menekankan pada cara bagaimana sampai pada suatu jawaban.
Sudiarta (Poppy, 2002:2) mengatakan bahwa secara konseptual open ended problem dapat dirumuskan sebagai masalah atau soal-soal matematika yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga memiliki beberapa atau bahkan banyak solusi yang benar, dan terdapat banyak cara untuk mencapai solusi itu.
Pembelajaran dengan menggunakan open-ended diawali dengan memberikan masalah terbuka kepada siswa. Kegiatan pembelajaran harus mengarah dan mengantarkan siswa dalam menjawab masalah dengan banyak cara serta mungkin juga dengan banyak jawaban yang benar.
Tujuan pembelajaran open ended problem, Menurut Nohda (Suherman, dkk, 2003:124) ialah untuk membantu mengembangkan kegiatan kreatif dan pola pikir matematika siswa melalui problem posing secara simultan. Dengan kata lain, Kegiatan kreatif dan pola pikir matematika siswa harus dikembangkan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang dimiliki setiap siswa.
Dengan adanya konsep matematika tersebut, akan menjadikan pembelajaran matematika yang disenangi siswa, menciptakan suasana belajar yang efektif, siswa yang kreatif dan suasana yang menyenangkan. Sehingga hasil belajar dapat tercapai dengan optimal.
Salah satu indikator keberhasilan siswa menguasai matemtika adalah bila siswa dapat mencapai Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM), baik yang ditetapkan oleh sekolah maupun yang diharapkan oleh kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). SKBM yang ditetapkan di Sekolah Dasar Negeri 009 Seberang Taluk adalah 6,5 sedangkan hasil dari ujian semester genap Tahun Pelajaran 2009 / 2010, 35% dibawah SKBM tersebut.

4. Hasil belajar Matematika
Menurut azhar (2002), belajar adalah suatu proses komplek yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang yang mungkin diseababkan oleh terjadinya perubahan tingkah laku pada tingkat pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya. Selanjutnya Slamento (2003) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Aktifitas belajar akan mendatangkan hasil belajar . Menurut Djmarah (1994) hasil belajar menjelaskan bahwa hasil belajar merupakan proses perubahan dan belum mampu kearah sudah mampu. Sudjana (2004), menyatakan bahwa hasil belajar pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku setelah menerima pengalaman belajar. Kemudian Sudjana (2005) menjelaskan bahwa hasil belajar adalah suatu kemampuan yang dicapai siswa setelah melalui kegiatan belajar.
Sebagaimana dinyatakan Syaiful sagala (2002), bahwa belajar merupakan serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perobahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dalam lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor. Seseorang dikatakan belajar apabila terjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan perubahan tingkah laku. Menurut Winkel (1989), belajar berarti perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan, misalnya membaca, mendengarkan dan meniru. Belajar akan efektif apabila si pebelajar melakukannya dalam suasana menyenangkan dan dapat menghayati obyek pembelajaran secara lansung.
Dalam kurikulum 2004, hasil belajar berkaitan dengan kompetensi. Kompetensi merupakan pengetahuan, Keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak (Azhar, 2006). Menurut mulyasa (2005) hasil belajar merupakan prestasi belajar siswa secara keseluruhan, yang menjadi indicator kompetensi dan derajat perubahan perilaku yang bersangkutan. Kompetensi yang harus dikuasai siswa perlu dinyatakan sedemikian rupa agar dapat dinilai sebagai wujud hasil belajar siswa yang mengacu pada pengalaman lansung (Mulyasa,2005).
Dengan berpedoman kepada uraian tentang hasil belajar dan kompetensi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kompetensi yang telah dikuasai atau dicapai siswa setelah melalui proses pembelajaran. Adapun hasil belajar matematika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kompetensi yang telah dikuasai atau dicapai siswa setelah melalui proses pembelajaran matematika dengan model Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan pada materi mata uang yang dapat dilihat dari nilai harian yang diperoleh siswa.
Penilaian hasil belajar dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan kurikulum 2006 atau KTSP. Dalam kurikulum 2006 penilaian pembelajaran harus ditujukan untuk mengetahui tercapai tidaknya kompetensi dasar yang telah ditetapkan.Ukuran standard hasil belajar menurut kurikulum 2006 adalah ketercapaian kompetensi dasar yang memiliki makna bahwa siswa harus mencapai SKBM yaitu 75 (Depdiknas, 2006). Selanjutnya SKBM disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah. Berdasarkan kriteria penerapan penetapan SKBM maka ditetapkan SKBM mata pelajaran matematika. Di Sekolah Dasar Negeri 009 Seberang Taluk yakni 6,5.
Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh faktor internal dan Eksternal (Mulyasa, 2005). Faktor internal siswa adalah factor yang berasal dari dalam diri siswa, yaitu aspek fisiologis dan psikologis. Aspek fisiologis adalah aspek yang menyangkut kondisi fisik siswa, sedangkan aspek psikologis meliputi intelegensi, minat, sikap dan motivasi. Faktor eksternal siswa adalah factor yang berasal dari luar diri siswa, yang terdiri dari factor sosial dan non sosial. Faktor sosial meliputi lingkungan keluarga, sekolah, teman dan masyarakat. Faktor non sosial meliputi gedung sekolah, tempat tinggal siswa, alat-alat pratikum, perpustakaan dan lain-lain.
Efektifitas pengelolaan bahan, Lingkuangan dan instrument sebagai faktor utama yang mempengaruhi proses dan prestasi belajar, hampir keseluruhannya tergantung pada guru. Oleh karena itu guru perlu mempertimbangkan pendekatan dan model pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi yang akan dikembangkan. Guru dapat menggunakan berbagai pendekatan dan model pembelajaran untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal (Mulyasa, 2005).
Menurut Bloom (1974), menyatakan hasil belajar dibagi tiga ranah yaitu:
1. Ranah kognitif, berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.
2. Ranah efektif, berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yaitu penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.
3. Ranah psikomotor, berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak yang terdiri dari lima aspek yaitu gerak reflek, keterampilan gerak dasar, kemampuan persertual, keharmonisan dan ketepatan, serta gerakan keterampilan kompleks.
Dari pendapat - pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah penguasaan pengetahuan yang dicapai oleh siswa dalam bentuk angka atau skor setelah melakukan proses belajar dengan menggunakan alat ukur tertentu. Sedangkan hasil belajar matematika dalam penelitian ini adalah penguasaan pengetahuan yang dicapai oleh siswa dalam bentuk angka atau skor setelah melakukan proses pembelajaran matematika dengan menerapkan model pembelajaran aktif kreatif efektif dan menyenangkan.
Adapun ruang lingkup materi matematika kelas V pada pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan terlihat pada table 2. berikut dibawah ini :

SEMESTER MATERI AJAR
I Pengerjaan hitung bilangan bulat
Pengerjaan hitung dalam waktu
Menentukan perkalian dan pembagian
Sudut
Bangun datar dan bangun ruang
Jarak dan kecepatan
II Pengukuran volume
Luas bangun datar dan bangun ruang
Pengerjaan hitung pecahan
Kesebangunan dan simetri
Tabel 2. Materi pelajaran Pakem matematika kelas V

B. Penelitian yang relevan
a. Sunarno (2006) dalam tesisnya Penerapan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan terhadap hasil matematika SMP Negeri 14 ajibarang, (tesis tidak dipublikasi) dengan hasil sebagai berikut : Lebih aktif berpikir (dapat mengungkapkan atau mengekspresikan gagasan, berbuat (dalam bentuk unjuk kerja atau hasil karya), bersikap (dalam bentuk perilaku siswa).
b. Interaktif untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada pembelajaran suhu dan Siswanto (2010), dalam tesisnya Implementasi PAKEM melalui CTL berbasis multimedia kalor di SMA 14 Semarang, (tesis tidak dipublikasikan) dengan hasil implementasi PAKEM melalui CTL berbasis multimedia interaktif dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada SMA 14 Semarang.

C. Kerangka berpikir
Dengan diterapkannya model PAKEM diharapkan dapat meningkatkan hasil pembelajaran matematika terutama pada materi bangun datar di kelas V, hasil yang diharapkan akan mencapai KKM yang telah ditetapkan. Hasil belajar tersebut dapat dilihat dengan hasil tes setelah di adakan tindakan. Untuk lebih jelas nya kerangka berpikir dapat di gambarkan sebagaimana dapat dilihat pada kerangka berpikir pada tabel 3 berikut ini:








Gambar .3. Kerangka berpikir

D. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian pustaka dan hasil penelitian yang relevan maka dapat dirumus kan hipotesis penelitian adalah sebagai berikut :
1. Pembelajaran aktif kreatif efektif dan menyenangkan dapat meningkatkan aktivitass siswa pada pelajaran matematika kelas V Sekolah Dasar Negeri 009 Seberang Taluk Kecamatan Kuantan Tengah.
2. Pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan dapat meningkatkan hasil belajar matematika kelas V Sekolah Dasar Negeri 009 Seberang Taluk Kecamatan Kuantan Tengah.





BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, yang dilaksanakan untuk mencermati kegiatan pembelajaran dalam kelas secara bersama yang menggunakan metode Pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Penelitian ini merupakan suatu bentuk penelitian yang bersipat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan agar dapat memperbaiki kondisi dimana praktek dilakukan. Dengan penelitian ini dapat di ambil tindakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Peneliti secara kolaboratif melaksanakan penelitian ini dengan guru yang ada pada Sekolah Dasar Negeri 009 Seberang Taluk kecamatan Kuantan Tengah.

B. Setting Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Lokasi yang digunakan sebagai penelitian dengan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan terhadap hasil belajar matematika kelas V Sekolah Dasar Negeri 009 Seberang Taluk Kecamatan Kuantan Tengah. Di mana peneliti bertugas.



2. Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas V Sekolah Dasar Negeri 009 Seberang Taluk Kecamatan Kuantan Tengah Tahun Pelajaran 2010 / 2011. Dengan jumlah siswa 35 orang. 15 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan yang semuanya menjadi subjek dari penelitian.

C. Prosedur Penelitian
Salah satu ciri-ciri dari Penelitian Tindakan Kelas adalah dilakukan tindakan persiklus. Menurut Wardani : 2002, Siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK) terdiri dari : Perencanaan (Planning), Pelaksanaan atau tindakan (acting), Pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Dalam penelitian ini peneliti melakukan dua siklus, Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 4. dibawah ini :










Untuk melaksanakan penelitian ini penulis melibatkan guru kelas V sebagai observer dan membantu peneliti pada proses pengumpulan data. Berikut adalah langkah -langkah penelitian persiklus :
1. Perencanaan tindakan
Perencanaan dilaksanakan untuk mempersiapkan data-data yang diperlukan pada tahap pelaksanaan atau tindakan. Adapun perencanaan yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut:
a. Menyusun silabus, membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), tentang materi bangun datar
b. Berdasarkan RPP tersebut, guru menyiapkan sarana dan prasarana yang diperlukan seperti : a). sumber belajar, seperti buku pelajaran, buku-buku lain yang relevan, kertas warna, lem, gunting, karton dan lain-lain, sesuai dengan kebutuhan. (Dalam hal ini peneliti menggunakan media berupa gambar-gambar bangun datar, kertas hvs warna yang dibuat dalam bentuk diagram player).
c. Memilih dan memperhitungkan strategi dan metode yang sesuai dengan RPP yang digunakan.
d. membuat Lembaran kerja siswa (LKS), dan membuat kisi-kisi soal ulangan yang berkaitan dengan Pakem.
e. Menguji validitas soal-soal yang akan dijadikan pengujian berhasil tidak nya tindakan yang akan dilakukan.

f. Menetapkan observer untuk mengisi lembaran pengamatan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran berlansung.
g. Menyusun format lembaran pengamatan yang akan dilaksanakan pada proses pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan berlansung.

2. Pelaksanaan tindakan
Pada tahap ini peneliti melaksanaksan proses pembelajaran dengan Pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan untuk meningkatkan hasil belajar matematika. Kegiatan yang dilakukan dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa adalah melaksanakan kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir sesuai dengan rancangan yang yang telah dituangkan dalam RPP.
Pada kegiatan awal dimulai dengan menciptakan lingkungan : a). salam pembuka, dan berdoa. b). Pretest : peserta didik menjawab beberapa pertanyaan tentang yang berhubungan dengan bangun datar c). menghubungkan materi yang telah dimiliki peserta didik dengan bahan atau kompetensi baru. d). Menyebutkan tujuan pembelajaran.
Pada kegiatan inti dimulai dengan : a). Pengorganisasian atau kelompok kecil, guru memberi instruksi tentang cara kerja siswa b). Prosedur pembelajaran, guru memberi tugas-tugas atau permasalahan yang jelas yang akan dikerjakan atau dipecahkan bersama (LKS), siswa mengadakan diskusi kelompok, (dalam diskusi kelompok inilah inti dari kegiatan Pakem dilaksanakan), guru memberikan dasar-dasar estetika yang diperlukan agar diskusi kelompok tersebut berjalan dengan lancar, guru memberi arahan tentang waktu yang akan digunakan, guru memberikan arahan selama kegiatan diskusi kelompok berlansung,sebelum siswa mempresentasekan kan hasil diskusinya siswa mengadakan kunjungan kelompok, siswa mempresentasekan hasil diskusi di depan kelas, kelompok lain menanggapinya, memberi contoh penerapan konsep dalam kehidupan sehari-hari, membuat rangkuman. c). Pembentukan kompetensi, menyebutkan ciri-ciri bangun datar yang dibuat dalam bentuk diagram flayer.
Pada kegiatan akhir adalah : a). Untuk membentuk dan memanfaatkan sikap peserta didik terhadap konpetensi yang telah dipelajari pada akhir pelajaran diadakan perenungan. b). Post test bisa dilakukan secara lisan maupun tertulis. c). Siswa memajang hasil diskusi kelompok pada tempat yang telah disediakan. d). Refleksi, pada akhir proses pembelajaran guru mengajak kepada semua siswa untuk bersama-sama mengevaluasi proses dan hasil kegiatan yang telah dilaksanakan.

3. Observasi / pengamatan
Tahap observasi adalah tahap pengamatan dalam setiap kegiatan pembelajaran. Pengamatan dilakukan oleh dua orang observer. Sebelum dilakukan pengamatan didalam kelas, peneliti menjelaskan bentuk-bentuk pengamatan yang harus dilakukan oleh observer. Pengamatan yang dilakukan oleh pengamat adalah pelaksanaan pembelajaran langsung dengan pembelajaran aktif kreatif efektif dan menyenangkan terhadap pembelajaran matematika. Aktivitas guru adalah pelaksanaan pembelajaran yang telah dirancang sesuai dengan RPP, Sedangkan aktifitas siswa yang diamati dalam kelas adalah yang telah ditulis pada lembar pengamatan yaitu dengan cara menghitung jumlah siswa yang terlibat disetiap indicator. Data yang diperoleh dari hasil pengamatan didiskusikan oleh peneliti dengan observer untuk memperoleh kesimpulan dan perbaikan berikutnya.

4. Refleksi
Tahap ini merupakan kegiatan untuk menganalisis dan perubahan apa yang terjadi setelah pembelajaran dengan penerapan PAKEM pada matematika. Data dianalisis, dievaluasi dan akhirnya ditetapkan kegiatan atau langkah yang perlu diperbaiki dan perlu ditingkatkan atau dipertahankan. Setelah diadakan refleksi maka dapatlah ditentukan langkah-langkah selanjutnya dalam proses pembelajaran.

D. Defenisi operasional
1. PAKEM adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif dalam memperoleh pengalaman belajar yang tersedia atau disediakan, pembelajaran yang memberikan ruang gerak siswa untuk memunculkan kreativitas siswa dan guruanya, pembelajaran yang efektif dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, pembelajaran yang berlansung dengan suasana yang menyenangkan.
2. Aktivitas belajar adalah segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara jasmani maupun rohani, aktivitas siswa selama proses pembelajaran merupakan kegiatan atau perilaku yang terjadi selama proses pembelajaran merupakan kegiatan atau perilaku yang terjadi selama proses pembelajaran seperti bertanya, mengajukan pendapat, mengerjakan tugas-tugas dan menjawab pertanyaan guru dan bisa bekerjasama dengan siswa lain, serta tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan, aktivitas yang digunakan disini adalah aktivitas selama proses pembelajaran matematika berlansung.
3. Konsep matematika adalah suatu ilmu yang tidak jauh dari realitas kehidupan manusia, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran, pemahaman konsep dan pemecahan masalah. Matematika dalam konsep pakem adalah yang dilaksanakan dengan pengalaman lansung siswa melalui berbuat, siswa dihadapkan pada benda nyata sesuai dengan lingkungannya sehari-hari sehingga hasil belajar dapat tercapai.
4. Hasil belajar adalah merupakan akibat dari perolehan skor atau nilai setelah siswa diberi tugas atau latihan setelah selesai materi pembelajaran tes yang diberikan kepada siswa adalah setelah diterapkan pakem pada pelajaran matematika dalam bentuk uraian singkat yang berhubungan dengan bangun datar. Siswa dikatakan berhasil dalam belajar apabila mencapai KKM yang telah ditetapkan yakni 6.5.






E. Instrumen penelitian
1. Perangkat pembelajaran
Perangkat pembelajaran yang digunakan pada penelitian ini terdidri dari silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Lembar Kerja Siswa (LKS).

a. Silabus
Silabus pada dasarnya sama dengan GBPP dalam kurikulum pada masa sebelumnya. Format silabus menurut pakem adalah standar kompetensi, kompetensi dasar, indicator, materi standar, standar proses dan standar penilaian. Pengembangan silabus diserahkan kepada sekolah apabila sekolah mampu untuk mengembangkannya. Dalam hal ini silabus yang dipakai peneliti disusun oleh sekolah tempat peneliti bertugas sesuai dengan ketentuan yang berlaku dibawah pengawasan Dinas Pendidikan.

b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dalam silabus serta bertujuan agar peneliti mempunyai pedoman dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berwawasan pakem disusun secara sistematis yang berisi, Standar kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator, Tujuan Pembelajaran, Materi standars, Model dan metode pembelajaran, Langkah-langkah pembelajaran, Sumber belajar dan penilaian hasil belajar yang mengacu pada pembelajaran aktif kreatif efektif dan menyenangkan pada pembelajaran matematika.

c. Lembaran Kerja Siswa (LKS)
Lembar Kerja Siswa merupakan langkah kerja dalam mengkonstruksikan konsep dengan prosedur yang dibuat sedemikian rupa sehingga siswa mampu menyelesaikan suatu permasalahan baik secara individu maupun kelompok.

2. Alat pengumpul Data
Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data tentang aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlansung dan data tentang hasil belajar matematika dengan model pakem setelah proses pembelajaran. Data tentang aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dikumpulkan dengan menggunakan lembaran pengamatan yang diamati oleh observer.
Data aktivitas selama proses pembelajaran adalah: pembelajaran aktif kreatif efektif dan menyenangkan.
Untuk mengumpulkan data tentang kegiatan pembelajaran berlansung dengan menggunakan metode observasi dan pengamatan. Lembar pengamatan untuk siswa dalam penerapan PAKEM pada pembelajaran matematika kelas V pada materi bangun datar. Tes hasil belajar matematika berupa ujian blok setelah penerapan PAKEM pada pelajaran matematika materi bangun datar disajikan
Data dikumpulkan, sebagai dasar menilai pelaksanaan tindakan adalah data PAKEM dan data hasil belajar matematika. Data tentang PAKEM dilakukan dengan menggunakan lembar observasi, sedangkan data tentang hasil belajar dikumpulkan dari tes hasil belajar.

F. Teknik Analisis data
1. Aktivitas siswa
Data yang sudah diperoleh melalui lembar pengamatan dan tes hasil belajar matematika kemudian dianalisis. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif. Analisis statistik deskriftif bertujuan mendeskrifsikan data tentang penerapan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan dalam proses pembelajaran dan data tentang ketuntasan belajar matematika kelas V pada materi bangun datar Analisa data tentang penerapan PAKEM dan hasil belajar matematika yang berdasarkan dari lembaran pengamatan selama proses pembelajaran, yaitu apakah sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran dan terlaksana sebagai mana mestinya.
Adapun aktivitas siswa yang akan diamati selama proses pembelajaran dapat dilihat pada tabel 5. berikut:



Aspek yang diamati Baik Sedang Kurang
1. Aktif
- Sering dipilih menjadi ketua kelompok
- Sering mengajukan pertanyaan
- Paling aktif mengerjakan tugas-tugas kelompok
2. Kreatif
- Aktif mencari bahan yang diperlukan oleh kelompok
- Memberi motivasi kepada anggota kelompok untuk segera menyelesaikan tugas
- Memiliki ide a tau gagasan dalam pemecahan masalah
3. Efektivitas
- Menyelesaikan tugas lebih cepat dari kelompok lain
- Sering membantu kelompok lain dalam menyelesaikan tugas
4. Menyenangkan
- Semangat dalam melaksanakan kegiatan
- Tidak merasa tertekan atau terpaksa menyelesaikan kegiatan kelompok atau pun kelas
- Terdapat suasana saling bekerja sama antara anggota kelompok
Tabel 5. Lembar pengamatan aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlansung.

Kegiatan siswa dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan tersebut harus direkaf dalam buku penilaian proses. Gunakan format pengamatan kegiatan belajar siswa seperti pada table 6. Berikut ini :
FORMAT PENGAMATAN KEGIATAN SISWA

Tabel 6. Rekaf format pengamatan penilaian proses
Catatan : A = Aktif B = Baik
K = Kreatif S = Sedang
E = Efektivitas K = Kurang
M = Menyenangkan

2. Hasil belajar
Analisa data tentang hasil belajar matematika siswa kelas V pada materi bangun datar dilkukan dengan melihat hasil belajar matematika siswa secara individual yang mengikuti penerapan materi PAKEM. Pada penelitian ini siswa dikata kan berhasil dalam mencapai standar kompetensi apabila telah mencapai standar ketuntasan belajar (SKBM) yang telah ditetapkan yakni 6,5.
Peningkatan hasil belajar dapat dilihat dari perkembangan skor antara blok 1 dan blok 2, karena penelitian ini dilakukan persiklus. Hasil belajar matematika dikatakan meningkat apabila hasil belajar siswa meningkat dari siklus 1 ke siklus 2 setelah diadakan tindakan.
Dalam suyanto (1997), apabila skor hasil belajar siswa setelah tindakan lebih baik dari sebelumnya maka dikatakan bahwa tindakan berhasil, akan tetapi apabila tidak ada bedanya dan bahkan lebih buruk dari sebelumnya maka tindakan belum berhasil.
Data dalam penelitian ini digunakan dengan lembar pengamatan dan tes hasil belajar matematika siswa. Data tentang kegiatan siswa akan dianalisis secara kuantitatif dalam bentuk persen, yang berpedoman pada pendapat Suarsimi arikunto (1996) yakni sebagai berikut :


Keterangan:
P = Angka persentase penerapan PAKEM
F = Frekwensi Penerapan PAKEM
N = Banyak siswa
Selanjutnya dalam mengekplanasikan persentase yang diperoleh sebagai interprestasi penerapan PAKEM adalah sebagai berikut:

81% -100% = baik sekali
61% - 80% = baik
41% - 60% = cukup
21% - 40% = kurang
0% - 21% = kurang sekali
Data tentang hasil belajar siswa dikumpulkan berdasarkan skor tes hasil belajar matematika dilaksanakan setelah penerapan PAKEM.
Menurut Ngalim (2004), nilai yang diperoleh siswa menunjukkan besarnya persentase penguasaan siswa terhadap bahan pelajaran (kurikulum) yang telah diajarkan, dengan rumus penilaian sebagai berikut:
, dimana: NP = nilai persen yang dicari atau yang diharapkan
Keterangan :
R = Skor mentah yang diperoleh siswa
SM = Skor maksimun
100 = bilangan tetap
Berdasarkan pada rumus penilaian diatas, siswa yang memperoleh nilai > 65% adalah siswa tuntas memahami materi pelajaran. Hal ini sesuai dengan KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah dasar negeri 009 Seberang Taluk Kecamatan Kuanatan Tengah


DAFTAR RUJUKAN

Anita lie. 2008. Cooferative learning. Jakarta: PT. Gramedia Widia Sarana.

BNSP. 2006. Panduan Penyusunan KTSP Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta: Depdiknas.
Bloom. (1974) Taxonomi of Educational Obyectives, Newyork: Longman


Bambang Indriyanto. 2008. Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan, Modul I Jakarta: Depdiknas.

Bambang indrianto. 2008. Pembelajaran aktit, kreatif, efektif dan menyenangkan, modul II Jakarta : departemen pendidikan nasional.

Bambang indriyanto. 2008. Pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, modul III Jakarta : departemen pendidikan nasional.

Departemen pendidikan nasional. 2009. Praktik yang baik, gema suara mainstreaming good Practices in basic education.

Departemen pendidikan nasional. 2008. Contoh yang baik dalam bidang manajemen pendidikan,Good practices in education management, Jakarta: Proyek MGP – BE.
Dasim Budimansyah. 2009. Pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan,
Jakarta: PT. Granesindo.

Iwan zahar. 2009. Belajar matematikaku, Jakarta : PT. Gramedia Widia sarana Indonesia

Jurnal teknologi pendidikan, 2009, teknolodidaktika, program studi teknologi pendidikan, Pascasarjana universitas negeri padang


Nana Sudjana. 2006. Penilaian hasil proses belajar mengajar, Bandung : PT. Remaja Rosda karya

Ngalim Purwanto. 2004 Prinsif – prinsif dan teknik evaluasi pengajaran, Bandung : PT. RemajaRosdakarya
Permendinas RI. 2006. Standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah Jakarta : Depdiknas

Sodikin. A. 2008 Peningkatan keaktifan dan prestasi belajar matematika, Malang: Universitas Negeri Malang, http //www, um.ac.id.

Slamento. 2001. Evaluasi pendidikan, Jakarta : Bumi aksara

Siswanto. 2010. “Implementasi PAKEM melalui CTL berbasis multimedia kalor di SMA 14 Semarang”.

Sunarno. 2006. “Penerapan pembelajaran aktif kreatif efektif dan menyenangkan terhadap hasil matematika SMP Negeri 14 Ajibarang”.

Wardani. 2002. Penelitian tindakan kelas, Jakarta : Universitas terbuka

Wina sanjaya. 2008. Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan, Jakarta : Kencana prenada media group

WS. Winkel. 1989.Psikologi belajar, Jakarta : PT. Gramedia widia sarana














PROPOSAL TESIS

PENERAPAN PEMBELAJARAN AKTIF KREATIF EFEKTIF
DAN MENYENANGKAN TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA KELAS V (LIMA) SD NEGERI 009
SEBERANG TALUK KECAMATAN
KUANTAN TENGAH















OLEH :


YUSMALINDA
NIM : 51947






TEKNOLOGI PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PASCA SARJANA UNIVERSITAS NEGERI PADANG KERJA SAMA DENGAN
UNIVERSITAS RIAU TAHUN 2010
LEMBAR PENGESAHAN

PROPOSAL TESIS
PENERAPAN PEMBELAJARAN AKTIF KREATIF EFEKTIF
DAN MENYENANGKAN TERHADAP HASIL BELAJAR
MATEMATIKA KELAS V (LIMA) SD NEGERI 009
SEBERANG TALUK KECAMATAN
KUANTAN TENGAH


















PEMBIMBING I PEMBIMBING II





Prof. Dr. ABIZAR Dr. RIDWAN, Msc, Ed





SILABUS
Nama Sekolah : SD Negeri 009 Seberang Taluk
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : V / I
Alokasi Waktu : 4 x 40 Menit (2 kali pertemuan)
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Materi Standar Standar Proses (KBM) Standar Penilaian
Memahami sifat-sifat dan ciri-ciri bangun datar, bangun ruang serta hubungan antar bangun Mengidentifikasi sifat-sifat dan ciri-ciri bangun datar Memahami sifat-sifat bangun datar dan ciri-ciri bangun datar







Bangun datar

- Menyebutkan sifat-sifat dan ciri-ciri bangun datar a. Tehnik
- Kuis
- Tes
- diskusi kelompok
b. Bentuk instrumen
- Tertulis
- Lisan
- Unjuk kerja
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI i
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Identifikasi Masalah 8
C. Pembatasan Masalah 9
D. Perumusan Masalah 10
E. Tujuan Penelitian 10
F. Manfaat Penelitian 11
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Teori 12
1. Pengertian PAKEM 12
2. Pengertian Aktivitas Belajar 19
3. Konsep Matematika 22
4. Belajar Matematika …………………………………………………..... 29
B. Penelitian yang Relevan 33
C. Kerangka berpikir 34
D. Hipotesis penelitian 35
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian 31
B. Setting Penelitian 36
1. Lokasi Penelitian 36
2. Subjek Penelitian 36
C. Prosedur Penelitian 37
1. Perencanaan Tindakan 38
2. Pelaksanaan Tindakan 39
3. Observasi / Pengamatan 40
4. Refleksi 4 1
D. Defenisi Operasional 41
E. Instrumen Penelitian 42
1. Perangkat Pembelajaran 42
2. Alat Pengumpul Data 44
F. Teknik Analisis Data 45
1. Aktivitas Siswa 47
2. Hasil Belajar 41







RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Sekolah : SD Negeri 009 Seberang Taluk
Kelas / Semester : V (lima) / I (ganjil)
Mata pelajaran : Matematika
Tema : Bermain
Alokasi waktu : 2 x 40 menit (2 x pertemuan)

Standar Kompetensi
Memahami sifat-sifat dan ciri-ciri bangun datar, bangun ruang serta hubungan antar bangun
Kompetensi dasar
Mengidentifikasi sifat-sifat dan ciri-ciri bangu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar